Review Battlefield 1: Memenuhi Hype!




Dunia pertama. Sebuah konsep yang tak hanya berhasil mereka tampilkan dengan begitu luar biasa via trailer perdana dengan alunan remix Seven Nation Army dari White Stripes, tetapi juga dieksekusi dengan manis di versi akhir. Bahwa ini adalah jawaban jelas untuk permintaan gamer yang sudah lama menginginkan kembalinya tema perang klasik. Jawaban yang cukup untuk membuat bulu kuduk Anda merinding.

Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya, tentu sudah punya sedikit gambaran soal apa yang ditawarkan oleh Battlefield 1, setidaknya dari mode single player yang kini ditawarkan dalam format yang jauh berbeda. Untuk versi Playstation 4 yang notabene tak bisa dibilang sebagai platform gaming terkuat di pasaran saja, kemampuan Frostbite Engine yang memamerkan kualitas visual dengan detail mumpuni dan efek kehancuran yang dramatis terlihat memesona. Pendekatan mode campaign Battlefield 1 memang membuat seri ini terasa unik dan lebih personal, sesuatu yang tak pernah mereka tempuh sebelumnya. Sayangnya di artikel preview kemarin, kami tak menyentuh mode multiplayer sama sekali.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Battlefield 1 ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang memenuhi hype? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda dengan ekstra rangkaian screenshot dari mode multiplayer yang belum kami sertakan di artikel preview sebelumnya di bagian terakhir. Ini dia review dari JagatPlay:

Plot
Tak seperti game FPS pada umumnya, Battlefield 1 mengambil perspektif 5 karakter dari 5 belahan dunia.

Ada begitu banyak game FPS bertebaran selama eksistensi platform gaming modern, satu atau dua generasi sebelumnya. Terlepas dari semua latar belakang cerita yang diusung, hampir semua franchise yang mengusung tema perang modern atau klasik selalu memosisikan Anda sebagai satu karakter utama atau lebih, yang terlibat dalam satu konflik besar dan memainkan peran super signifikan di dalamnya. Anda bisa saja jadi seorang prajurit yang membantu mencegah perang dingin antara Cina dan Amerika Serikat, menggagalkan rencana perang nuklir dari sekelompok teroris, bahkan membantu negara Anda memenangkan perang dengan satu atau dua aksi. Ada kecenderungan klise di sana, sesuatu yang untungnya, tak ditawarkan oleh Battlefield 1.



Masing-masing cerita mengusung satu tema khusus tersendiri, yang juga mempengaruhi gameplay.


Dari luasnya angkasa hingga keringnya padang gurun.

Alih-alih mengikuti hanya satu atau dua karakter saja, Battlefield 1 langsung membawa Anda pada kisah 5 orang karakter, dari 5 belahan dunia berbeda, dengan 5 fokus cerita yang semuanya dihubungkan oleh satu benang merah yang sama – Perang Dunia Pertama. Satu cerita meminta Anda berperan sebagai seorang supir pribadi yang kini harus mengendalikan tank besar bernama “Big Bess” di atas kondisi perang yang sulit, satu cerita meminta Anda mengendalikan pesawat dan menjadikannya sebagai fokus cerita, sementara yang lain membawa Anda pada perjuangan seorang prajurit wanita melawan kekuasan Ottoman di keringnya padang gurun.

Satu hal yang menarik dari setiap dari cerita ini adalah usaha DICE dan EA untuk menjadikannya sebagai sebuah pengalaman yang terasa lebih personal, alih-alih, tipikal game perang yang selama ini Anda kenal. Mereka dengan jelas membuktikan klaim mereka bahwa fokus campaign kali ini bukanlah untuk memperlihatkan Anda seberapa besar skala perang yang terjadi, tetapi menyelami bagaimana orang-orang yang mau ataupun tidak mau terlibat harus melewati jejak destruktif yang ia racik.

Apa yang terjadi dengan masing-masing karakter ini? Anda bisa memainkan game ini dan menemukan sendiri jawabannya.

Lantas, bagaimana akhir cerita untuk setiap plot yang ditawarkan oleh Battlefield 1? Mengapa Anda akan merasakan cita rasa yang lebih pribadi dan emosional di setiap darinya? Anda bisa menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan memainkan Battlefield 1 ini.


source :JagatPlay

0 comments:

Lomba Overclock yang di sebut Hacker KPUD

Pernyataan Resmi Mengenai AOCT (Amateur Overclocking Tournament)




Sehubungan dengan adanya pemberitaan di lini masa (media sosial) Facebook yang berkenaan dengan salah satu acara yang kami selenggarakan, kami merasa perlu melakukan pernyataan resmi.

AOCT adalah pertandingan overclock (bukan hacking) yang sudah berulang kali kami (JagatReview) selenggarakan untuk menemukan bibit-bibit overclocker yang bisa mengharumkan nama bangsa ini. AOCT adalah singkatan dari Amateur OverClocking Tournament.
AOCT sudah berulang kali kami selenggarakan, seperti bisa dilihat dalam tautan-tautan artikel terdahulu di bawah ini:

Ini adalah video penyelenggaraan AOCT, bisa dilihat bahwa tidak ada hacking dalam lomba overclocking ini:


Dan ini adalah video liputan AOCT yang dibuat media luar negeri saat mengunjungi acara kami ini di tahun 2014:


Sebagai tambahan, saat tulisan ini dibuat, AOCT terakhir kali dilakukan pada tahun 2016 di Yogyakarta.

Adapun menanggapi pernyataan yang disinyalir diungkapkan oleh akun Facebook di bawah ini:




Terlepas dari tujuan posting dan keabsahan akun tersebut, sebagai akibat dari posting tersebut kami selaku penyelenggara pertandingan AOCT merasa perlu memaparkan penjelasan sebagai berikut:
1. Foto tersebut benar diambil dari salah satu pertandingan AOCT kami dan kaos yang digunakan adalah kaos dengan desain yang wajib digunakan saat pertandingan. Tapi AOCT yang tertulis dalam kaos itu adalah Amateur OverClocking Tournament, bukan seperti yang ditulis dalam posting di atas.
2. Melihat dari atribut lomba dan kondisi sekitar, ini adalah AOCT tahun 2014 di Yogyakarta. Jadi, bukan tahun 2017.
3. Sekali lagi mengingatkan bahwa pertandingan yang dilakukan adalah overclocking, bukan hacking. Semua komputer yang digunakan untuk bertanding, tidak terhubung ke Internet atau jaringan lokal sama sekali.
4. Agak aneh rasanya jika ini adalah proses hacking, terutama karena dilakukan di muka umum, dan dengan seorang MC (sisi kanan, berbaju biru).
5. Pertandingan AOCT kami belum pernah disponsori atau didukung sedikit pun oleh elemen negara atau partai politik manapun.
6. JagatReview dalam acara yang diselenggarakan maupun kesehariannya belum pernah disponsori, didukung, berafiliasi, ataupun menyatakan dukungan terhadap partai politik atau paslon manapun dalam PILKADA DKI 2017.
7. Akan ada ratusan saksi dari pentonton dan peserta yang bisa membuktikan bahwa AOCT dalam konteks yang dinyatakan posting tersebut di atas adalah Amateur OverClocking Tournament.
Jadi, isi posting tersebut terkait fungsi dan arti AOCT seperti yang ditampilkan screenshot di atas, adalah TIDAK BENAR. Sekali lagi kami mengecam tuduhan dan fitnah yang ditujukan kepada acara AOCT yang kami selenggarakan, karena hal ini telah melanggar UU ITE Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).
Kami sangat berharap tidak terjadi salah paham mengenai acara AOCT ini dan para pesertanya.
Dengan pernyataan ini kami berharap, para netizen semua yang terkait dapat melihat dan mencerna fakta-fakta yang ada, dan tidak terjebak oleh fitnah yang tersebar tersebut, terkait dengan acara AOCT kami.
Tidak ada niat kami untuk memojokkan, menyudutkan, atau mendukung pihak-pihak tertentu dengan tulisan ini. Kami hanya berniat untuk meluruskan dan menjelaskan apa itu arti AOCT yang ada di dalam foto dalam posting tersebut, karena kami nilai sudah merugikan nama baik kami.
Catatan:
Untuk pemahaman mengenai overclocking dan pertandingan overclocking itu sendiri, 2 artikel ini mungkin bisa membantu:
Praktek Overclocking Dasar
Mengenal Pertandingan Overclocking

Source : JagatReview


0 comments:

Copyright © 2013 2B
Animated Rainbow Nyan Cat